Sabtu, 22 Desember 2018

Hello Akhir Tahun 2018 dan Awal Tahun 2019

Akhir tahun sudah tiba, habis ini sudah menginjak tahun 2019. Umur juga sudah berubah lagi. Waktu cepat sekali berlalu....
Walau telah berdoa dan berharap agar kedepan semua masalah lancar, tetap harus dipersiapkan segala sesuatunya. 

Panik, kenapa waktu cepat berlalu? Apa yang terlewat untuk kulakukan? Apa yang terlewat untuk kupersiapkan?

Tau tau, aku yang masih suka anime, manga dan masih pengen cosplay ini sudah hampir bertumbuh menjadi ibu buat calon anak-anak tiriku. Tiada keterpaksaan yang kurasakan, karena sudah semacam panggilan alam. Memang sudah waktunya. Kita punya waktu sendiri-sendiri, namun di usia 29 tahun inilah waktu ku.

Ketika menikah adalah hal yang gampang atau dianggap gampang oleh sebagian orang, namun tidak buat ku. Aku terlalu pemilih? iya. Terlalu hati-hati? iya. Jadi nggak sebegitu ngurusi pandangan umum yang mulai mendesak kita untuk menikah di usia sekitar 24-26.

25 tahun belum jadi apa apa, gitu mau nikah? Ah kamu kan cewek, ngapain mikirin, itu ntar urusan calon suami mu.... gilak lah....pernah ada yang ngasih komentar begini ke aku.... Misal suami nya lagi kondisi dibawah gimana? cuma bisa nuntut suami? Jujur sekarang aku masih merasa belum sukses walaupun setidaknya sudah punya wacana kedepan. Sudah bukan lagi anak 25 tahun yang bingung dan tidak yakin dengan masa depan pekerjaannya. Namun, pernikahan kadang masih bikin keder, pertanyaan semacam apa aku bisa?

Pertanyaan yang ditanyakan ibu ketika aku bilang akan menikah adalah, siapkah kita jadi ibu? Siapkah privasi kita terganggu? Siapkah waktu nyantai kita habis karena harus ngurus suami dan anak?

Dan tambahan dari aku untuk diriku sendiri, seperti apa bentuk cinta ku pada pasangan yang akan ku nikahi? Apa lebay kayak sinetron? apa sekedar hasrat fisik semata? atau, rasa sayang terhadap seorang teman hidup? Atau opsi lain? berhubung yang berputar di kepala dan yang sering kusaksikan disekitar adalah 3 hal itu, aku jadi belum ada gambaran opsi lain. Menimbang nimbang, rasanya aku lebih suka dengan pikiran bahwa pasanganku adalah teman hidup dari pada dianggap belahan jiwa. Kalau nganggap belahan jiwa itu takutnya aku jadi lebay ga ketulungan.

Intinya, di tahun depan ini, banyak yang harus kupersiapkan, baik persiapan mental dan biaya. Harus mulai mencari pekerjaan yang fleksible. Tujuannya agar keinginan terpenuhi dan anak-anak nggak terlantar. Keinginan menjadi suatu kebutuhan batin apabila terlalu mengusik hati, jadi rasanya Masih kepikiran apa aku perlu lanjutkan pekerjaanku jadi home visit massage therapist yang seminggu 2x aja


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comment Moderation "ON"