Mood saya jadi bagus, setelah selesai membaca "Canting", novel karya Arswendo Atmowiloto, novel yang menghibur saya akhir-akhir ini. Jujur awalnya saya hanya tertarik sekali dengan sinopsisnya, sampulnya juga hahahaha. Saya tidak kenal dengan pengarangnya walaupun setelah saya searching sepertinya orangnya sudah terkenal lama. (kemana aja mbak xD) Saya tidak menyangka, beliau juga pengarang cerita Keluarga Cemara yang muncul di TV dulu.
Novel Canting, menceritakan tentang keluarga Raden Ngabehi Sestrokusuma yang memiliki usaha batik Cap Canting dengan sekitar 112 buruh batiknya. Keluarga Ngabean yang berani menjadi "aneh" dibanding keluarga ngabean yang lain. Namun usaha batiknya lama-lama terbanting dengan kemunculan batik printing.
Saya senang membaca novel ini karena ceritanya serasa mengalir begitu saja, senang dengan pergantian topiknya, tersambung begitu saja, membuat saya menikmati membaca cerita ini. Nuansa keluarga Jawa yang masih kental, adat istiadat dan sopan santunnya, terasa ketika membaca. Setelah membaca, saya merasa dapat banyak nasehat dan pesan moral dari seorang Pak Bei dan kisah keluarganya.
Next,saya jadi pengen baca novel Keluarga Cemara. Dulu cuma lihat di TV, masih kecil dan masih nggak nyambung sama ceritanya.
Info Buku:
Judul: Canting
Pengarang: Arswendo Atmowiloto
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 408 halaman
Tahun pertama kali terbit: 1986
Cetakan kedua: 1997
Cetakan ketiga: 2007
Novel Canting, menceritakan tentang keluarga Raden Ngabehi Sestrokusuma yang memiliki usaha batik Cap Canting dengan sekitar 112 buruh batiknya. Keluarga Ngabean yang berani menjadi "aneh" dibanding keluarga ngabean yang lain. Namun usaha batiknya lama-lama terbanting dengan kemunculan batik printing.
Kepala keluarga ini adalah Raden Ngabehi Daryono Sestrokusuma yang dipanggil Pak Bei yang menurut saya orangnya blak-blakan, wawasannya luas, pintar bicara dan bangga dengan dirinya. Ia dianggap 'berani' dan kadang akhirnya kata-katanya dianggap menyinggung ngabehi yang lain atau anggota keluarga keraton lain, dianggap keminter. Namun di akhir cerita, beliau menjadi orang yang saya kagumi, apalagi ketika membicarakan tentang sikap pasrah yang menurutnya adalah suatu sikap yang membuat keluarga Sestrokusuma menjadi keluarga Ngabean yang berbeda dengan Ngabean yang lain. Kagum juga ketika beliau menasehati Ni, anak bungsunya yang memutuskan meneruskan bisnis batik Cap Canting. Beliau adalah orang yang berani memiliki pemikiran berbeda dibanding Ngabehi lain.
Pak Bei menikah dengan anak buruh batik bernama Tuginem yang akhirnya dipanggil Bu Bei. Wanita yang sangat patuh pada suaminya, pekerja keras dan rajin. Beliau mampu mengurusi batik, jualan batik di pasar sekaligus mengurusi suaminya dan juga keenam anak-anaknya. Setiap hari selalu mengerjakan kegiatannya dengan baik, tak mengenal hari libur. Bu Bei digambarkan oleh Pak Bei sebagai istri yang perasaannya sangat peka dan memiliki sikap pasrah yang ditunjukkannya dengan bekerja keras. Pak Bei sungguh bangga memiliki istri seperti beliau, bangga karena telah berani mengawini beliau yang hanya gadis desa, anak buruh batik, dan bukan putri bangsawan. Sebagai gadis desa yang sama sekali tidak mengerti dunia bangsawan, Tuginem mampu menjadi Bu Bei.
Putra putri Pak Bei dan Bu Bei ada 6 orang:
1. Wahyu Dewabrata : Anak laki-laki sulung yang membuat Bu Bei bangga. Sejak kecil Wahyu pintar dan rajin. Kelihatan sebagai anak yang baik-baik. Bu Bei memanjakannya dan juga melindunginya ketika berbuat salah. Dia menjadi orang yang kurang menjadi favorit Pak Bei ketika dewasa, sukmanya kosong, jiwanya kerdil, kurang bertanggung jawab pada kesalahan-kesalahan yang dibuatnya.
2. Lintang Dewanti : Diceritakan sangat menyukai perhatian dan senang bila menjadi pusat perhatian. Dia merasa kurang senang ketika sudah tidak lagi menjadi pusat perhatian keluarga terutama setelah Wening lahir.
3. Bayu Dewasunu : Sangat sayang pada adiknya, Wening, ketika kecil. Ia marah bila Wening diejek bahkan oleh kakaknya sendiri.
4. Ismaya Dewakusuma : Juga diceritakan sangat menyayangi Wening, apa-apa maunya sama Wening, namun ia kurang cocok dengan Ni.
5. Wening Dewamurti : Putri Ngabean yang prestasi di sekolahnya biasa saja. Nilainya juga biasa saja. Namun, ia pintar berjualan, sejak kecil ada saja bisnis kecil-kecilan yang dilakukannya. Ia pun dipanggil juragan cilik dirumah. Ia adalah bintang keluarga, kesayangan Pak Bei.
6. Subandini Dewaputri Sestrokusuma (dipanggil Ni): Putri Ngabean terakhir yang disukai Pak Bei karena memiliki pemikiran berbeda, karena bisa aneh. Keinginannya untuk melanjutkan dan mempertahankan usaha keluarga, usaha batik Cap Canting, telah mengguncangkan keluarga terutama ibu dan kakak-kakaknya. Himawan, calon suaminya, selalu menyemangati Ni walaupun via telepon interlokal. Himawan juga dengan sabar menunda pernikahannya dengan Ni.
Pak Bei menikah dengan anak buruh batik bernama Tuginem yang akhirnya dipanggil Bu Bei. Wanita yang sangat patuh pada suaminya, pekerja keras dan rajin. Beliau mampu mengurusi batik, jualan batik di pasar sekaligus mengurusi suaminya dan juga keenam anak-anaknya. Setiap hari selalu mengerjakan kegiatannya dengan baik, tak mengenal hari libur. Bu Bei digambarkan oleh Pak Bei sebagai istri yang perasaannya sangat peka dan memiliki sikap pasrah yang ditunjukkannya dengan bekerja keras. Pak Bei sungguh bangga memiliki istri seperti beliau, bangga karena telah berani mengawini beliau yang hanya gadis desa, anak buruh batik, dan bukan putri bangsawan. Sebagai gadis desa yang sama sekali tidak mengerti dunia bangsawan, Tuginem mampu menjadi Bu Bei.
Putra putri Pak Bei dan Bu Bei ada 6 orang:
1. Wahyu Dewabrata : Anak laki-laki sulung yang membuat Bu Bei bangga. Sejak kecil Wahyu pintar dan rajin. Kelihatan sebagai anak yang baik-baik. Bu Bei memanjakannya dan juga melindunginya ketika berbuat salah. Dia menjadi orang yang kurang menjadi favorit Pak Bei ketika dewasa, sukmanya kosong, jiwanya kerdil, kurang bertanggung jawab pada kesalahan-kesalahan yang dibuatnya.
2. Lintang Dewanti : Diceritakan sangat menyukai perhatian dan senang bila menjadi pusat perhatian. Dia merasa kurang senang ketika sudah tidak lagi menjadi pusat perhatian keluarga terutama setelah Wening lahir.
3. Bayu Dewasunu : Sangat sayang pada adiknya, Wening, ketika kecil. Ia marah bila Wening diejek bahkan oleh kakaknya sendiri.
4. Ismaya Dewakusuma : Juga diceritakan sangat menyayangi Wening, apa-apa maunya sama Wening, namun ia kurang cocok dengan Ni.
5. Wening Dewamurti : Putri Ngabean yang prestasi di sekolahnya biasa saja. Nilainya juga biasa saja. Namun, ia pintar berjualan, sejak kecil ada saja bisnis kecil-kecilan yang dilakukannya. Ia pun dipanggil juragan cilik dirumah. Ia adalah bintang keluarga, kesayangan Pak Bei.
6. Subandini Dewaputri Sestrokusuma (dipanggil Ni): Putri Ngabean terakhir yang disukai Pak Bei karena memiliki pemikiran berbeda, karena bisa aneh. Keinginannya untuk melanjutkan dan mempertahankan usaha keluarga, usaha batik Cap Canting, telah mengguncangkan keluarga terutama ibu dan kakak-kakaknya. Himawan, calon suaminya, selalu menyemangati Ni walaupun via telepon interlokal. Himawan juga dengan sabar menunda pernikahannya dengan Ni.
Saya senang membaca novel ini karena ceritanya serasa mengalir begitu saja, senang dengan pergantian topiknya, tersambung begitu saja, membuat saya menikmati membaca cerita ini. Nuansa keluarga Jawa yang masih kental, adat istiadat dan sopan santunnya, terasa ketika membaca. Setelah membaca, saya merasa dapat banyak nasehat dan pesan moral dari seorang Pak Bei dan kisah keluarganya.
Next,saya jadi pengen baca novel Keluarga Cemara. Dulu cuma lihat di TV, masih kecil dan masih nggak nyambung sama ceritanya.
Info Buku:
Judul: Canting
Pengarang: Arswendo Atmowiloto
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 408 halaman
Tahun pertama kali terbit: 1986
Cetakan kedua: 1997
Cetakan ketiga: 2007

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Comment Moderation "ON"