Mungkin buku soal DEBM by Robert Hendrik Liembono ini sudah populer di kalangan mereka yang sudah menjalani diet debm ini. Tapi jujur saya bukan orang yang terlalu aktif sosmed. Punya fb, punya instagram jarang dibuka. Pegang hp kalau ga ngerjain kerjaan ya nge-game mulu hohoho. Jadi, saya baru tahu hari itu juga di gramedia fair soal debm dan tertarik. Ada 1 buku yg terbuka plastiknya dan saya baca buku itu....eh, kayaknya diet kayak gini cocok buat saya. Akhirnya saya beli buku itu Rp.135,000 berharap ada diskon biasanya di gramedia fair gitu....sayang sih buku yang ini ga diskon.
Ada yang kusuka dari buku ini:
Buat yang biasanya ngantuk baca buku dan nggak telaten baca buku bertele-tele, buku ini cukup menarik secara visual, banyak gambar dan tulisan berwarna. Cocoklah buat saya yang biasanya malas baca buku.
Penjelasannya juga ga bertele-tele, bahasanya mudah dipahami dan isi buku nya menarik menurut saya. Saya yang baru tahu soal debm hari itu juga, bisa langsung paham dan tertarik beli bukunya. Padahal kalau mau gratisan bisa aja saya cuma follow instagramnya....saya lihat, penjelasannya lengkap juga disana.
Dengan judul-judul part yang besar berwarna, saya jadi merasa dimudahkan kalau mau skip ke part yang saya inginkan dan bisa menemukan part yang saya cari dengan mudah. (kenapa buku sekolah saya dulu enggak begini.....hiks...)
Namun, buku ini juga ada kekurangannya:
Kekurangan yang mengusik saya sebenarnya hanya 2 : Typo dimana-mana dan ketidak sesuaian antara gambar dan penjelasan.
Jadi buku ini banyak typo, serta ketidak sesuaian antara gambar dan penjelasannya. Ada yang paragrafnya kedobelan...kirain halamannya kedobelan...ternyata bukan... Coba baca aja sinopsis pada foto diatas....ada typo nya lhoo...hayoo yang mana xD
Kalau saya sih masih bisa nahan, namun nggak tau lagi bagi pembaca perfeksionis. (adek saya perfeksionis, saya larang baca buku ini...karena biasanya kalau ada keliru gini baca sambil ngomel ini kok begini kok begitu... hahaha)
Bagi yang perfeksionis dan gatel kalau ada benda atau tulisan yang keliru gitu, mohon bersabar... ini ujian...
Semoga kedepan lebih baik.
Secara keseluruhan saya suka buku ini,
1. Visual menarik, bahasa mudah dipahami. Nggak bikin ngantuk akhirnya
2. Cukup mengedukasi saya soal makanan karbo dan gula
3. Saya tertarik coba diet debm ini karena sering lesu kalau kebanyakan karbo dan saya bingung mau makan apa dong....? Selain itu berat badan saya kelebihan 5kg dari target.
4. Saya suka banget sama yang namanya telur dan di buku ini dia jadi primadona! yeah! :Dd
------------------------------------------------------
UPDATE 27 januari 2019
Setelah melihat kondisi diri dan kehidupan saya, rasanya saya ga bisa mempraktekkan 100% cara diet ini. Kendala ketika ke pertemuan, saya kemungkinan akhirnya bingung kalau mau makan. Karena kerja saya ketemu banyak orang dan sering keluar kota.
Lagipula respon diri saya agak menolak juga ketika melihat hasil akhir di akhir buku tentang mereka yang berhasil, itu menurut saya terlalu kurus. Saya ga ada keinginan untuk terlalu kurus seperti itu karena saya pernah sulit untuk gemuk. Setelah bisa gemuk jadi kebablasan 5kg sih....nah hanya 5kg ini yang ingin saya turunkan, badan kerasa berat soalnya.
Namun bukan berarti percuma beli buku ini, karena informasi tentang gula, karbo dan lemak ini memberi masukan kepada saya untuk memberi perhatian pada 3 hal itu di makanan yang saya makan. Saya lebih ingin mencari info lebih lanjut bagaimana menyeimbangkan 3 hal itu dari pada memutuskan untuk secara ekstrim makan daging terus atau telur terus dan tidak makan nasi. Karena sehari hari saya sudah termasuk agak berlebih konsumsi daging dan telur. Saking senengnya sama telur. Kebanyakan karbo dan gula bikin saya lesu dan otak blank. Karena itu rasanya pengen tahu gimana menyeimbangkan 3 hal itu.
Menghilangkan konsumsi nasi dan tepung juga tidak bisa 100% saya lakukan, kalau mengurangi saya setuju. Perut saya sempat buncit gara-gara pola makan = nasi banyak lauk sedikit. Memang hemat tapi ga bagus juga ternyata efeknya di perut. Sekarang saya kurangi nasi, nambah lauk jadi seimbang antara nasi dan lauk. Lalu tidak lupa untuk mengurangi minuman manis dan makan kerupuk. Step memakan daging dahulu baru nasi juga sepertinya cocok buat saya. Saya coba 2 hari ini dan step itu cukup berhasil mengurangi perut perih ketika lapar. Tidak berpikiran bahwa kalau belum makan nasi berarti belum makan itu bagus juga buat saya. Karena apapun yang kita makan, bagi perut itu tetaplah makanan.
Walaupun buat saya kurang cocok cara diet ini namun belum tentu kurang cocok juga untuk orang lain. Cari tahu dan konsultasikan apa yang tubuh kita butuhkan.
Apaan sih DEBM?
DEBM singkatan dari Diet Enak, Bahagia dan Menyenangkan. Kalau saya sering lupa sebut jadi Diet Enak Bisa Makan hahaha, apalagi setelah baca bukunya. Diet ini masih membolehkan kita makan. Makan sering-sering ga masalah pula...cocok dah buat perut saya yang sering rewel sesekali perih minta diisi. Baca aja sinopsisnya di foto sampul belakang lebih jelas apa debm.
Ada yang kusuka dari buku ini:
Buat yang biasanya ngantuk baca buku dan nggak telaten baca buku bertele-tele, buku ini cukup menarik secara visual, banyak gambar dan tulisan berwarna. Cocoklah buat saya yang biasanya malas baca buku.
Penjelasannya juga ga bertele-tele, bahasanya mudah dipahami dan isi buku nya menarik menurut saya. Saya yang baru tahu soal debm hari itu juga, bisa langsung paham dan tertarik beli bukunya. Padahal kalau mau gratisan bisa aja saya cuma follow instagramnya....saya lihat, penjelasannya lengkap juga disana.
Dengan judul-judul part yang besar berwarna, saya jadi merasa dimudahkan kalau mau skip ke part yang saya inginkan dan bisa menemukan part yang saya cari dengan mudah. (kenapa buku sekolah saya dulu enggak begini.....hiks...)
Namun, buku ini juga ada kekurangannya:
Kekurangan yang mengusik saya sebenarnya hanya 2 : Typo dimana-mana dan ketidak sesuaian antara gambar dan penjelasan.
Jadi buku ini banyak typo, serta ketidak sesuaian antara gambar dan penjelasannya. Ada yang paragrafnya kedobelan...kirain halamannya kedobelan...ternyata bukan... Coba baca aja sinopsis pada foto diatas....ada typo nya lhoo...hayoo yang mana xD
Kalau saya sih masih bisa nahan, namun nggak tau lagi bagi pembaca perfeksionis. (adek saya perfeksionis, saya larang baca buku ini...karena biasanya kalau ada keliru gini baca sambil ngomel ini kok begini kok begitu... hahaha)
Bagi yang perfeksionis dan gatel kalau ada benda atau tulisan yang keliru gitu, mohon bersabar... ini ujian...
Semoga kedepan lebih baik.
Secara keseluruhan saya suka buku ini,
1. Visual menarik, bahasa mudah dipahami. Nggak bikin ngantuk akhirnya
2. Cukup mengedukasi saya soal makanan karbo dan gula
3. Saya tertarik coba diet debm ini karena sering lesu kalau kebanyakan karbo dan saya bingung mau makan apa dong....? Selain itu berat badan saya kelebihan 5kg dari target.
4. Saya suka banget sama yang namanya telur dan di buku ini dia jadi primadona! yeah! :Dd
------------------------------------------------------
UPDATE 27 januari 2019
Setelah melihat kondisi diri dan kehidupan saya, rasanya saya ga bisa mempraktekkan 100% cara diet ini. Kendala ketika ke pertemuan, saya kemungkinan akhirnya bingung kalau mau makan. Karena kerja saya ketemu banyak orang dan sering keluar kota.
Lagipula respon diri saya agak menolak juga ketika melihat hasil akhir di akhir buku tentang mereka yang berhasil, itu menurut saya terlalu kurus. Saya ga ada keinginan untuk terlalu kurus seperti itu karena saya pernah sulit untuk gemuk. Setelah bisa gemuk jadi kebablasan 5kg sih....nah hanya 5kg ini yang ingin saya turunkan, badan kerasa berat soalnya.
Namun bukan berarti percuma beli buku ini, karena informasi tentang gula, karbo dan lemak ini memberi masukan kepada saya untuk memberi perhatian pada 3 hal itu di makanan yang saya makan. Saya lebih ingin mencari info lebih lanjut bagaimana menyeimbangkan 3 hal itu dari pada memutuskan untuk secara ekstrim makan daging terus atau telur terus dan tidak makan nasi. Karena sehari hari saya sudah termasuk agak berlebih konsumsi daging dan telur. Saking senengnya sama telur. Kebanyakan karbo dan gula bikin saya lesu dan otak blank. Karena itu rasanya pengen tahu gimana menyeimbangkan 3 hal itu.
Menghilangkan konsumsi nasi dan tepung juga tidak bisa 100% saya lakukan, kalau mengurangi saya setuju. Perut saya sempat buncit gara-gara pola makan = nasi banyak lauk sedikit. Memang hemat tapi ga bagus juga ternyata efeknya di perut. Sekarang saya kurangi nasi, nambah lauk jadi seimbang antara nasi dan lauk. Lalu tidak lupa untuk mengurangi minuman manis dan makan kerupuk. Step memakan daging dahulu baru nasi juga sepertinya cocok buat saya. Saya coba 2 hari ini dan step itu cukup berhasil mengurangi perut perih ketika lapar. Tidak berpikiran bahwa kalau belum makan nasi berarti belum makan itu bagus juga buat saya. Karena apapun yang kita makan, bagi perut itu tetaplah makanan.
Walaupun buat saya kurang cocok cara diet ini namun belum tentu kurang cocok juga untuk orang lain. Cari tahu dan konsultasikan apa yang tubuh kita butuhkan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Comment Moderation "ON"